Puisi Tentang Pemancing Tua | Dadang Ari Murti

Pemancing Tua
Dadang Ari Murti

pemancing tua dengan fedora putih, di tepi
kedung yang jauh
mungkin sedang mencatat ingatan
atau serpihan busa limbah pabrik, dan sisa cuci salju
nila-nila dengan sisik seperti kulit peladang tua
atau tukang becak dengan gigi ompong, malu-malu
mengintip dari gumpalan pembalut bekas,
dan bungkus kentang goreng.
salah satunya menghitung mata kail
memilih cara menuju lelehan mentega yang paling
hangat

aih, tak ada lagi mentega, kaleng-kaleng dipenuhi
sambat, tumpukan surat utang dan air mata yang membeku
di situlah setiap pagi tumbuh lumut halus, dan
dari tepian penuh karat, beberapa ekor kupu akan melilitkan
bianglala di fedora putih
mengikatkan tenung di leleran liur, lumut dan mata pancing

lalu waktu mengecipak di dalam bubu, asap rokok
dan tukang batagor berlomba memenuhi dada, dan
selalu ada pasir yang menyesakkan, yang sulit
diurai menjadi pondasi, menjadi tiang-tiang
atau batako

setelah itu, ikan-ikan akan menepi, menernakkan
sepi di dalam telinga pemancing tua itu
tapi tak ada alasan untuk menyerah, tak pernah ada

maka dia tertegun sendirian, di depan poster
beethoven di dinding kamarnya.

Surabaya, 2008




Category Article