Puisi Jerit Tangis Anak Jalanan | Rizal Shidiq Muttaqin

Jerit Tangis Anak Jalanan
Rizal Shidiq Muttaqin

Ketika fajar menyingsing
ku awali hari-hariku dengan senyuman,
kumulai pekerjaanku,
dengan ditemani gitar kecilku,
lantunan lagu yang kunyanyikan
hanya untuk mengumpulkan uang kertas lucah
dan uang logam recehan
untuk membeli sebungkus nasi

tak peduli panas terik matahari
tak kupikirkan hujan membasahiku
tak peduli perut ikut bernyanyi
juga tak peduli orang-orang mencemoohiku
yang ada dipikiranku
hanyalah uang kertas lucah dan uang recehan

Apakah ini yang dinamakan Hidup?
betapa pahit hidupku
yang tak memiliki tempat berteduh
untuk mencurahkan isi kalbu
karena aku jauh dari kasih sayang ayah dan ibu

Ditengah keramaian kota Metropolitan
selalu kesepian dalam keramaian
aku tak pernah menyangka
hidupku hanayalah sebatang kara
hidup dibawah kolong jembatan

inikah yang dinamakan hidup?
EGOIS !
dunia ini memaksaku untuk bekerja
padahal,dunia seusiaku adalah bermain
tetapi,AKU!
aku hanya seorang anak jalanan
yang hanya mengamen dengan ditemani gitar kecilku
dipersimpangan lampu merah

aku ingin seperti anak lainnya
hidup serba ada,hidup serba mewah
yang bisa bermain bersama teman disekolah,
mendapat kasih sayang orang tua,
mendapat pelukan hangat dari seorang ayah,
dan belaian lembut seorang ibu

tetapi,aku tak kan pernah kesepian
karena aku mempunyai guru yang hebat
dia adalah teman teman anak jalanyang selalu mengisi hari-hariku dengan keceriaan,
canda dan tawa selalu menyertaiku
selalu mengajarkanku
untuk selalu mensyukuri hidup ini,dan
mengajarkanku MAKNA HIDUP

Garut,19 Januari 2013



Category Article ,